Pengolahan Sampah “Green Waste” Di Lingkungan Pesantren

recyclingsupply-com

Sampah sebagai limbah sering menjadi masalah, jika dalam pembuangannya tidak menemukan tempat yang tepat. Tumpukan sampah akan terus bertambah, dan mengakibatkan polusi, baik bagi manusia maupun alam. Penanganan sampah harus menjadi perhatian khusus di setiap permukiman masyarakat, perkotaan, ataupun wilayah yang semakin bertambah populasi penduduknya.

Lingkungan pesantren biasanya terdiri dari peserta didik, karyawan, dan guru-guru yang berada dalam satu kawasan pendidikan, dan biasanya tinggal menetap di lingkungan pesantren. Jumlah peserta didik yang bertambah juga mengalami penambahan limbah rumah tangga, dan limbah kantin, dalam bentuk sampah yang harus dibuang dan dibersihkan di lingkungan pesantrean.

Masalah sampah di pesantren bisa diminimalkan dengan pengelolaan yang melibatkan para santri, pengajar, dan karyawan melalui gerakan lingkungan hijau “Pengolahan Sampah Berbasis Pesantren”. Sampah diolah menjadi bahan organik, dan limbah kantinnya diolah menjadi “Silase Pakan Ternak” yang bisa dimanfaatkan bagi peternak, dan pegiat perikanan dalam mengurangi biaya pakan.

Beberapa proses penanganan sampah antara lain:

1. Pengangkutan sampah ke lokasi dan tempat yang sudah disiapkan

2. Melakukan sortasi sampah (Organik dan An Organik)

3. Pembakaran sampah (untuk diolah abu hasil pembakaran sebagai bahan campuran bokashi)

4. Fermentasi limbah menggunakan mikroorganisme

5. Panen olahan limbah (Bokashi dan Silase)

6. Produk jadi (Pupuk Organik dan Pakan Silase)

Tempat di lingkungan pesantren dapat digunakan dalam mengolah sampah untuk menjadi produk utama dalam kegiatan pertanian, peternakan, dan perikanan. Pesantren dapat mengembangkan kegiatan ekonominya dengan membangun pertanian secara terpadu tanpa harus menggunakan lahan yang luas, bisa memanfaatkan lahan-lahan yang tidak terpakai, di lingkungan pesantren. Untuk kerja sama bisa dilakukan dengan masyarakat sekitar, dan dikenalkan dengan para peserta didik tentang pengelolaan dan pemanfaatan sampah.

Sumber Daya Manusia

Dalam pengelolaan sampah berbasis pesantren dapat dilakukan oleh semua komponen yang berada di lingkungan pesantren. Diadakan sosialisasi kepada semua peserta didik dan masyarakat sekitar untuk memotivasi dalam penanganan sampah yang bisa memberikan nilai tambah, bukan lagi sebagai masalah.

Dampak Sosial

Pengetahuan penanganan sampah dapat dikenalkan kepada siapa saja di masyarakat dan polusi sampah dapat dikurangi, solusi penanganan sampah dapat terus dilakukan, dalam menjaga lingkungan pesantren dan lingkungan masyarakat tetap bersih dan hijau.

Dari mana memulai Penanganan Sampah Terpadu?

Dimulai dari kebiasaan di lingkungan terkecil, kebiasaan, kedisiplinan dalam membuang sampah dengan memisahkan terlebih dahulu jenis-jenis sampah, ditempatkan pada wadah khusus dengan dibimbing para pengajar di lingkungan pesantren.

Peluang Usaha

Pengelolaan sampah secara terpadu dapat mendatangkan peluang usaha dalam lingkungan keluarga pesantren dan dapat ditularkan kepada masyarakat, seperti di antaranya: Pupuk organik, Pakan ternak, Kerajinan dari bahan limbah, yang dapat dipasarkan di lingkungan pendidikan, dan masyarakat.

Bahan-Bahan yang diperlukan:

1. Terpal

2. Pembakaran

3. Wadah sampah

4. Bakteri pengurai

5. Plastik

6. Drum

Contoh pengolahan sampah organik: Bahan organik dari sampah dikumpulkan dan dicampur dengan dedak, ataupun molases, disimpan dalam drum plastik 200 kg, ditambah molases (tetes tebu) sebanyak 3% dari berat bahan. Lalu ditutup rapat, suapaya terjadi fermentasi (an aerob) disimpan selama 14 hari, dan setelah terjadi fermentasi dapat diberikan kepada hewan ternak.

Sampah Anorganik bisa diolah menjadi barang kerajian dan sebagai bahan yang dapat digunakan kembali, dengan nilai tambah yang bisa mendatangkan pendapatan bagi pelaku usaha pengolahan sampah terpadu, dan dapat menginspirasi lingkungan menjadi lebih baik dalam gerakan ramah lingkungan. (RSP)

kerajinansampah11

You may also like...