Diskusi Fatwa MUI Tentang Satwa Langka di Pondok Pesantren Buntet, Cirebon

UNAS bekerja sama dengan Buntet Pesantren dan Lembaga Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama Cabang Cirebon, berdiskusi tentang haram atau tidaknya berburu hewan langka yang dilindungi oleh Negara menurut Islam.

CIREBON [UNAS] – Haul Almarhumin Sesepuh dan Warga Pondok Buntet Pesantren yang sudah menjadi agenda tahunan selama kurang lebih satu abad (sejak Pesantren dipimpin oleh KH. Abdul Jamil). Tahun ini nampak berbeda pasalnya Universitas Nasional selaku lembaga pendidikan yang menunjukkan keseriusannya dalam menyelamatkan satwa langka negeri ini masuk dalam agenda Haul Buntet Pesantren 2014. Universitas Nasional bersama Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan Pondok Pesantren Buntet, Cirebon menggelar bahtsul masail (pembahasan masalah) mengkaji kitab klasik tentang perlindungan satwa langka.

“Alhamdulillah, tahun ini Haul Buntet Pesantren kembali diselenggarakan. Ini adalah acara tahunan yang akan terus dilaksanakan. Dalam Bahtsul Masail kali ini topik yang diangkat adalah Haram atau tidaknya berburu hewan langka yang dilindungi oleh Negara. Semoga acara ini bermanfaat bagi kita semua,” papar Ketua Haul 2014 H. Agus dalam sambutannya pada acara yang diselenggarakan di Aula Masjid Agung Buntet Pesantren Cirebon, Kamis (3/4).

Bahtsul masail merupakan sebuah forum pembahasan tentang hukum sekaligus perdebatan terbuka dengan merujuk pada khasanah kitab klasik yang kemudian menelurkan pendapat dan kesepakatan ulama dan didengar oleh komunitas pesantren dan diikuti pendapatnya oleh komunitas terutama yang ada di sekitar Cirebon dan Jawa Barat.

Dalam pembahasan awal Kiai Mutohar yang didaulat sebagai moderator menjelaskan, konteks perburuan hewan buas seperti macan Sumatra memang harus dibedakan dengan kondisi pembelaan diri sebagai alasan yang banyak dimanfaatkan oknum tidak bertanggung jawab.

Bahtsul masail membahas secara spesifik tentang perdagangan harimau, perburuan di habitat aslinya, serta bagaimana hukumnya menggunakan bahan-bahannya dari kulit, kuku, kumis hingga bagian anggota lainnya untuk pengobatan. Masyarakat sekarang mengerti tentang posisi satwa itu dalam hukum Islam. “Memburu, menggunakan bahkan memperdagangkan dan memakan uang hasil penjualannya, adalah haram.” papar Kyai Mutohar selaku Moderator. Demikian kesimpulan dari bahtsul masail yang diikuti oleh para ustadz muda dan dipandu oleh Kyai Senior dari Buntet Pesantren, Cirebon, yang dihadiri lebih dari seribu Santri Buntet Pesantren beserta masyarakat sekitar. Dialog dan pembahasan itu juga dapat diikuti pada laman Youtube di: http://www.youtube.com/watch?v=xR4CiJn-eKo

“Kegiatan ini menjadi jembatan antara pemahaman ulama pesantren yang memahami kitab fiqih atau jurisprudensi Islam, dengan pemahaman masyarakat awam tentang suatu persoalan, oleh karena ini berada di komunitas pesantren yang besar, diharapkan penjelasan ini menjadi fatwa yang diikuti oleh komunitas pesantren,” jelas Dr. Fachruddin Mangunjaya, Wakil Ketua Pusat Pengajian Islam (PPI), UNAS yang juga hadir dalam forum tersebut.

Hadir dari Universitas Nasional, Wakil Rektor Bidang Penelitian dan Pengabdian Masyarakat LPPM ( Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat UNAS, Prof Ernawati Sinaga serta beberapa staf UNAS lainnya yang menyampaikan perasaan bangga,”Untuk pertama kalinya UNAS bangga bisa bekerjasama dengan pesantren dan berada ditengah komunitas santri serta berinteraksi langsung dalam pembahasan kitab klasik.” ujar Prof Ernawati Sinaga. Ia berharap kerjasama kedepan antara pesantren dan UNAS dapat dilanjutkan sebagai sebuah sinergi dan upaya belajar bersama untuk membangun peradaban bangsa.

 

Sumber : (Zulkhairi / Dian Metha Ariyanti, S.Sos.,M.Si; http://www.unas.ac.id /detail_berita/1037_diskusi_fatwa_mui_tentang_satwa_langka_di_buntet_pesantren_cirebon)

 

Bahsul Masail Perlindungan Satwa Langka di Pondok Pesantren Buntet, Cirebon

Pada rangkaian kegiatan yang tergabung dalam haul tahunan Pondok Pesantren Buntet, Cirebon ini Universitas Nasional dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) membahas dan mengkaji kitab klasik tentang perlindungan satwa langka bersama ribuan peserta yang terdiri dari kalangan akademis, masyarakat, Ulama dan Santri.

Keseriusan langkah Universitas Nasional dalam menyelamatkan satwa langka negeri ini masih gencar dilakukan. Kali ini, UNAS bersama Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan Pondok Pesantren Buntet menggelar bahsul masail (pembahasan masalah) mengkaji kitab klasik atau yang lebih dikenal dengan kitab kuning tentang perlindungan satwa langka untuk kemudian bisa diterapkan di Indonesia. Kegiatan yang terangkum dalam Haul Akbar Pondok Pesantren Buntet.

(sumber : http://www.unas.ac.id/detail_berita/1035_bahas_perlindungan_satwa_langka,_unas _gandeng_lipi_dan_ponpes_buntet

Pemerintah, LSM dan Akademisi Dukung Fatwa Pelestarian Satwa

Munculnya fatwa ini berawal dari sebuah perjalanan lapangan yang diorganisasi oleh Universitas Nasonal (UNAS), WWF-Indonesia dan ARC pada bulan September 2013

Pemerintah, LSM dan Akademisi Dukung Fatwa Pelestarian Satwa

Munculnya fatwa ini berawal dari sebuah perjalanan lapangan yang diorganisasi oleh Universitas Nasonal (UNAS), WWF-Indonesia dan ARC pada bulan September 2013

JAKARTA (UNAS) – Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa nomor 4 Tahun 2014 tentang Pelestarian Satwa Langka untuk Menjaga Keseimbangan Ekosistem. Pemberian fatwa ini dikeluarkan untuk menjawab dan memberikan kepastian hukum menurut pandangan Islam tentang perlindungan terhadap satwa yang dilindungi terutama yang statusnya rawan bahkan terancam punah ataupun hilang dimuka bumi. Satwa ini termasuk harimau, gajah, badak dan orangutan.

Peluncuran dan sosialisasi fatwa yang dilakukan di Pusat Primata Smutzer, Ragunan pada Rabu (12/3) tersebut dihadiri oleh Ketua MUI, Prof. Dr. Din Syamsudin, Menteri Kehutanan Republik Indonesia, Dr. Zulkifli Hasan, perwakilan LSM dalam maupun luar negeri, serta para akademisi. Peluncuran ini ditandai dengan penandatanganan kanvas sampul buku fatwa MUI oleh Ketua MUI dan Menteri Kehutanan.

”Ini adalah hari yang monumental dan merupakan tonggak sejarah penting bagi umat manusia. Dunia sudah mengalami kerusakan global yang sifatnya kumulatif, langkah ini mengawali perbaikan penyelamatan lingkungan. Fatwa ini nantinya akan diterjemahkan ke dalam bahasa-bahasa dunia dan diharapkan dapat menjadi referensi khususnya umat Islam untuk melindungi satwa langka,” ungkap Ketua MUI, Prof. Din Syamsudin.

Langkah ini didukung penuh oleh Kementerian Kehutanan Republik Indonesia. Terkait fatwa, Menteri Kehutanan, Dr. Zulkifli Hasan mengungkapkan telah menyampaikan fatwa tersebut pada konferensi Internasional Illegal Wildlife Trade di London, Inggris pada 12-13 Februari 2014 dan mendapat sambutan yang luar biasa. Konferensi ini, katanya, dihadiri oleh Prince Charles, William dan Harry, presiden serta perdana menteri dari berbagai negara.

”Konsentrasi dunia sekarang sudah bergeser dari masalah illegal logging ke illegal wildlife. Konferensi sepakat untuk melarang wildlife trafficking atau perdagangan satwa liar,” ungkap Zulkifli. Indonesia sendiri, lanjutnya, kaya akan flora dan fauna. Dari 300 ribu flora dan fauna yang ada di dunia, 17 persen biodiversity (keanekaragaman hayati) dunia ada di Indonesia. Kondisi ini membuat Indonesia menjadi tempat yang strategis dan rentan akan kegiatan perdagangan satwa liar.

Munculnya fatwa ini berawal dari sebuah perjalanan lapangan yang diorganisasi oleh Universitas Nasonal (UNAS), WWF-Indonesia dan ARC pada bulan September 2013. Perjalanan yang diikuti oleh para pemuka agama Islam ini mengunjungi beberapa tempat di Sumatera dimana telah terjadi perambahan oleh satwa liar yaitu gajah. Perjalanan ini termasuk mengunjungi Suaka Margasatwa Tesso Nilo di Riau (sebuah tempat dimana terdapat lebih dari 4 ribu spesies tumbuhan dan tempat aman terakhir untuk Gajah dan Harimau Sumatera yang terancam punah dari penanaman kelapa sawit ilegal, kebakaran hutan dan tindakan pengerusakan lainnya. Dalam perbincangan dengan perwakilan penduduk setempat, beberapa penduduk bertanya: ”Apa sebenarnya status dari binatang seperti gajah dan harimau menurut para Ulama dan dalam pandangan Islam?”

Pemuka agama tersebut menjawab: ”Mereka adalah ciptaan Allah, seperti halnya kita manusia. Hukumnya Haram (dilarang keras) untuk membunuh mereka dan menjaga kelestariannya merupakan bagian dari ibadah kepada Allah?” Ketika para pemuka agama Islam tersebut kembali ke Jakarta, mereka menyadari bahwa masyarakat Indonesia menunggu sebuah indikasi atau tanda tentang cara berinteraksi dengan kehidupan satwa liar. Mereka pun mulai merancang sebuah fatwa. Tujuannya guna mengarahkan masyarakat untuk melindungi spesies-spesies langka yang terancam punah karena itu merupakan langkah yang benar, dan sesuai dengan perintah Islam.

Dalam proses pembuatan fatwa, MUI melibatkan aktivis lingkungan dan akademisi dari Universitas Nasional Jakarta. Tim ini terdiri dari Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati Kementrian Kehutanan, WWF Indonesia, Flora & Fauna Internasional dan Forum Konservasi Harimau Indonesia (Harimau Kita). Selain itu, Alliance of Religious and Conservation (ARC) UK juga menjadi partner kunci bagi Universitas Nasional.

”Ini adalah saat yang kritis bagi MUI untuk mengeluarkan fatwa guna mendukung upaya melindungi satwa-satwa langka. Indonesia telah kehilangan banyak potensi alamnya terutama karena perburuan liar, dan penebangan hutan. Saat ini, kita hanya memiliki kurang dari 400 harimau, 200 badak dan beberapa ribu gajah serta ratusan orangutan di Indonesia, ”kata Dr. Fachruddin Mangunjaya, Manager Program Agama dan Lingkungan, Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Nasional.

”Sangat penting bagi umat muslim untuk kembali pada kepercayaan dan nilai-nilai agama untuk mengatasi permasalahan lingkungan, juga mengubah perilaku mereka agar sesuai dengan ajaran agamanya, sehingga makhluk lain dapat hidup bersama-sama dengan aman dan damai,” lanjutnya.

Menurut Fachruddin, langkah selanjutnya, berbagai pihak perlu membantu MUI untuk menyebarluaskan fatwa ini ke daerah-daerah terpencil dimana hewan-hewan seperti harimau, badak, orangutan, penyu, gajah dan satwa lainnya yang terancam punah berada. Misalnya, dengan bekerjsama dengan Da’i Konservasi di masjid, mushola maupun pesantren.

WWF Indonesia menyambut baik langkah luar biasa dari MUI ini. ”Kami memang mengharapkan adanya pendekatan agama yang dapat sejalan dengan upaya konservasi, terutama melalui lahirnya sebuah fatwa, yang akan membantu masyarakat khususnya umat muslim untuk paham dan sadar akan pentingnya melindungi hewa-hewan yang terancam punah,”papar Nazir Foead, Direktur Konservasi WWF Indonesia.

”Kami berharap dengan diterbitkannya fatwa di negara berpenduduk muslim terbesar di dunia, dapat menginspirasi seluruh umat muslim lainnya untuk melindungi satwa yang terancam punah dan habitatnya,” ujar Martin Palmer, Sekretaris Jenderal Alliance of Religion and Conservation (ARC) UK.

Martin menambahkan, ini bukanlah kali pertama umat muslim Indonesia melakukan upaya koordinasi untuk melindungi lingkungan mereka. ”Sebelumnya ada beberapa inisiatif yang cukup impresif, termasuk diantaranya adalah pada tahun 2003 ketika 19 pesantren berhasil meyakinkan pemerintah untuk membuat Taman Nasional agar sungai mereka tidak tercemar.”

”Seringkali isu-isu lingkungan hanya diperdebatkan dalam konteks ekonomi. Fatwa ini mengingatkan bahwa uang bukanlah satu-satunya yang dapat memotivasi masyarakat. Ada hal lain yang lebih kuat, yaitu keyakinan dan nilai-nilai yang dianut Karenanya, momen ini adalah momen yang sangat penting bagi umat Islam dan juga seluruh ciptaan Tuhan,” lanjut Martin.

Agen donor Internasional termasuk WWF UK, U.S. Fish & Wildlife Service’s Rhinoceros dan Tiger Conservation Fund, Mohamed bin Zayed Species Conservation Fund, dan Mott Foundation, merupakan pihak-pihak yang juga berperan dalam inisiatif ini.

–selesai–

 Sumber : http://www.unas.ac.id/detail_berit/1023_pemerintah,_lsm_dan_akademisi_dukung_fatwa_pelestarian_ satwa

Kenalkan Taman Keanekaragaman Hayati di Lingkungan Pendidikan, UNAS Mulai dari Pondok Pesantren

 

Program ini mendukung inisiatif Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Republik Indonesia No 03 Tahun 2011 tentang Taman Keanekaragaman Hayati yang mendorong partisipasi masyarakat dalam mendukung upaya pelestarian dan pemanfaatan kenakaragaman hayati.

Jakarta (UNAS) – Keberadaan keanekaragaman hayati akhir – akhir ini menjadi sangat perlu diperhatikan. Pasalnya adanya keanekaragaman hayati terutama di lingkungan pendidikan akan membantu proses belajar mengajar yang akan memperkaya pengetahuan siswa maupun masyarakat yang ada di sekitarnya. Berdasarkan hal tersebut, Universitas Nasional berupaya mewujudkan salah satu tirdharma perguruan tinggi, yakni pengabdian kepada masyarakat melalui pengenalan taman keanekaragaman hayati di lingkungan pondok pesantren.

“Program pengabdian masyarakat ini merupakan upaya untuk mendukung inisiatif sesuai dengan Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Republik Indonesia No 03 Tahun 2011 tentang Taman Keanekaragaman Hayati yang mendorong partisipasi masyarakat dalam mendukung upaya pelestarian dan pemanfaatan kenakaragaman hayati,” papar Wakil Rektor Bidang Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Nasional, Prof. Dr. Ernawati Sinaga, M.S.,A.pt, Selasa (10/9).

Selain melibatkan seluruh santri dan beberapa warga sekitar pondok pesantren, kegiatan tersebut juga dihadiri oleh Ustadz Yazid, Dosen Fakultas Biologi Universitas Nasional, Dr. Fachruddin Mangunjaya, Drs. Yarni, M.Kes, serta Deputy Keanekaragaman hayati dan Pengedalian Kerusakan Lingkungan – Kementerian Lingkungan Hidup Republik Indonesia.

Lebih lanjut, lingkungan pondok pesantren dipilih Unas sebagai area pendidikan yang tepat dalam memperkenalkan taman keankearagaman hayati, karena pada umumnya taman pondok pesantren mempunyai lahan – lahan yang cukup luas yang ditanami bermacam – macam tanaman hias, sehingga adanya taman keanekaragaman hayati nantinya menjadikan pondok pesantren sebagai lingkungan yang nyaman serta memberikan kesegaran baik bagi santri, ustadz dan masyarakat yang sudah jenuh dengan aktivitas rutin.

Tidak hanya memperkenalkan taman keanekaragaman hayati, dalam rangkaian kegiatan yang digelar di Pondok Pesantren Darul Ulum Lido – Bogor pada Kamis (12/9), peserta diberikan pengetahuan seputar tanaman obat serta manfaatnya. Seperti tumbuhan obat herba yaitu lidah buaya, cocor bebek, tanaman obat perdu seperti mahkota dewa, leji beling, bluntas dan pohon seperti asam, belimbing wuluh dan lainnya.

“Gaya hidup kembali ke alam atau back to nature saat ini sudah menjadi tren, sehingga masyarakat kembali memanfaatkan berbagai bahan alam termasuk pengobatan dengan tumbuhan obat herbal. Selain ekonomis, efek samping dari ramuan herbal ini sangat kecil. Jadi penggunaan tanaman herbal sebagai obat dengan formulasi yang tepat dan tentunya lebih aman dan efektif,” imbuh Prof. Erna.

Melalui rangkaian pengenalan taman keanekaragaman hayati dan beragam tumbuhan herbal serta manfaatnya, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Nasional berharap dapat menumbuhkan kesadaran tentang arti penting keberadaan taman keanekaragaman hayati dan bisa memanfaatkannya sebagai media belajar. (Herlina, A.Md.)

Sumber : http://www.unas.ac.id/detail_berita/925_kenalkan_taman_keanekaragaman_hayati_di_lingkungan_ pendidikan,_unas_mulai_dari_pondok_pesantren

Arif Rifqi

Arif Rifqi adalah seorang ekologis alumni Fakultas Biologi Universitas Nasional yang bekerja di sektor keanekaragaman hayati bersama NGO internasional dan lokal seperti WWF, Fauna and Flora International Indonesia Programme, Burung Indonesia (Birdlife International), Forum Orangutan Indonesia, dsb. Selain itu juga pernah bekerja sebagai independent konsultan bidang lingkungan hidup untuk PT.  Wiratmana Multidiciplinary Consultant dan PT. Amara Cisadane. Beberapa publikasi yang dihasilkan antara lain Panduan Lapangan Jenis Mamalia dan Burung Dilindungi di Sumatera dan Kalimantan (FORINA, 2012).